open mind

Mau dibawa kemana sistem pendidikan dan teknologi informasi kita ?

Menarik sekali ketika saya membaca sebuah argumen dari salah satu dosen ITS yang beberapa waktu lalu dimuat di sebuah surat kabar, “Menurut saya, yang diberlakukan di Indonesia ini bukanlah sistem pendidikan melainkan sistem pelajaran. Kalau di Jepang, sistem pendidikannya memanusiakan manusia, kalau di Indonesia motonya mencerdaskan bangsa “. Dia juga menceritakan bahwa di Jepang pernah ditemukan seorang nenek dan cucunya tewas di dalam rumah karena tidak punya uang untuk membeli makanan, “Mereka malu meminta-minta dan memilih mati kelaparan, karena dengan memilih kematian itu dipandang sebagai sikap ksatria,” ujarnya.

Tentu bukan masalah bunuh diri yang ditekankan disini, tapi bagaimana budaya malu seperti mendarah daging dalam kehidupan mereka, penanaman budaya malu atau dikenal dengan Azukashi menjadi skala prioritas dalam pembentukan moral dan kepribadian yang benar-benar diterapkan dalam sebuah sistem pendidikan. Kemungkinan ”besar” sistem pendidikan kita memang sangat kurang (dalam hal proporsi) untuk materi pembentukan moral. Dan menurut pendapat saya, hal ini sudah bukan skala ”kemungkinan” lagi tapi sudah mendekati skala kepastian.

Terus terang, sebagai mantan lulusan daerah dan sangat bersyukur bisa merasakan pendidikan maju di sebuah kota besar, saya sangat merasakan perbedaan yang terlalu besar mengenai sistem, komitmen, prinsip, tujuan, maupun fasilitas pendidikan yang diberikan. Jika slogan kita adalah ”mencerdaskan kehidupan bangsa,” apakah salah jika saya sebagai anak bangsa meminta supaya bangsa ini sedikit saja memperhatikan kesenjangan ini. Hanya satu kesamaan yang menjembatani alur pendidikan kita, ternyata kekurangan proporsi pembentukan moral juga menjadi kurikulum ”wajib” bahkan di sebuah kota besar yang dikenal sebagai kota pendidikan. Enteng saja kita beranggapan asalkan ”pinter” kita sudah bisa jadi orang walau moralnya pas-pasan atau bobrok sekalian, tapi bagaimana kalau sudah ”gak pinter” ditambah lagi ”gak bermoral”. Sudahlah, kita lihat saja berapa banyak kalangan orang berpendidikan yang sudah mapan rela mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk membiayai sekolah anak-anak mereka ke luar negeri, apa yang bisa kita tebak dari pemikiran mereka ? ya, pendidikan itu penting, teramat penting malah, tapi pendidikan dengan pondasi yang benar dan kuatlah yang kini jadi pertimbangan utama.

Lalu bagaimana dengan teknologi informasi kita ?

Dari sebuah survei, pengguna internet sebagai salah satu pelaku teknologi informasi hanya 18 juta orang atau hanya sekitar 8% dari total 200 juta lebih penduduk Indonesia dan sekali lagi masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Maaf jika sekali lagi saya menggunakan perbandingan, jika kita lihat bagaimana India bisa menjadi raksasa baru dunia TI di Asia, Thailand dan Malaysia dengan produksi piranti keras maupun piranti lunaknya yang membanjir, Tiongkok dengan ekspansi bisnis yang bahkan mebuat cemas kalangan bisnis eropa dan amerika, rata-rata kunci kesuksesan itu karena mereka berhasil memanfaatkan dan mendayagunakan SDM mereka yang melimpah. Dan seharusnya negara ini punya kelebihan yang sama dalam hal kuantitas SDM yang ada.

Sangat beralasan memang jika kita menggunakan faktor geografis kita sebagai penyebab lambatnya pemerataan pendidikan maupun teknologi informasi kita. Tapi untuk yang terakhir kalinya, apakah benar-benar tidak bisa jika kita memfokuskan untuk mempersempit kesenjangan ini dengan membuat prioritas yang lebih tinggi bagi dunia informasi dan pendidikan.Sebagai penutup, disini memang saya belum punya peran sama sekali, tapi saya sangat kagum melihat sepak terjang beberapa aktivis pendidikan maupun TI seperti artis WH dengan lembaga-lembaga bantuan pendidikannya, OWP dengan konsep internet murahnya, dan beberapa aktivis perlindungan anak dengan konsep baru homeschool