Real Life
- September 26, 2007
Sinetron “Para Pencari Tuhan”, menawarkan pesan religi yang tak sekedar ’sampah’
Maraknya sinetron bernuansa religi yang semakin membludak seiring datangnya bulan ramadhan memang memberikan alternatif tontonan baik ketika saur maupun waktu berbuka puasa. Tapi, apa yang disampaikan oleh sinetron-sinetron ini justru mengedepankan hal-hal yang berbau perselingkuhan, pesugihan, dendam, harta warisan, dan yang lebih mengerikan lagi berbau mistik dan gaib. Padahal sudah sangat jelas dalam konsep agama manapun bahwa ada batasan yang kuat antara kehidupan nyata dan kehidupan gaib. Atau jika saya boleh berpendapat dan saya harap ini tidak sepenuhnya benar, sepertinya ada percobaan penetrasi terhadap keyakinan beragama dengan tujuan penurunan kualitas kepercayaan terhadap Tuhan dan akidah agama.
Dan seperti layaknya cerita sinetron, selalu ada sisi protagonis dan antagonis, salah satu sisi protagonis dalam dunia sinetron kita adalah karya-karya masterpiece sang Maestro Dedy Mizwar. Karya yang terbarunya, sinetron komedi religi “Para Pencari Tuhan” mungkin adalah sedikit jawaban dari banyaknya pertanyaan dan permintaan akan sebuah hiburan gratis yang berkualitas khususnya bagi dunia hiburan kita.
Bernuansa religi tapi tidak mendikte, penuh kritik sosial tetapi tidak kontras, cerita sederhana namun mengcover banyak aspek, dan benar-benar mencerminkan kehidupan sosial masyarakat kita. Semua karakter yang dimunculkan pun sangat mewakili masing-masing kondisi sosial kita, perbedaan si kaya dan miskin, bagaimana seharusnya wanita muslim bersikap dalam keluarga dan percintaan, bagaimana menyikapi kejadian-kejadian tak terduga dalam kehidupan, dan yang paling saya suka adalah karakter ustadz yang diperankan oleh salah satu komedian ternama kita. Sebuah kritik pedas terhadap para ustadz yang mengatasnamakan agama untuk mencari popularitas dan status ke-artisan.
Yang terakhir, saya mengutip salah satu dialog “Tuhan tidak akan pernah kehabisan pahala sebagaimana tidak akan habis hukuman yang akan diberikan untuk para pendosa”. Semoga ramadhan ini memberikan rahmat bagi kita, dan inti dari tulisan ini adalah saya mengucapkan “Mari menunaikan ibadah puasa, jaga hati, jaga diri, dan saling memaafkan dalam keindahan Idul Fitri”






Inti tulisan ama judul kok gak nyambung ya???